agama buddha dimata para intelektual

Agama Buddha
di Mata
Para Intelek Dunia
( Buddhism in the Eyes of Intellectuals )

Dikomplikasi Oleh :
Ven. K. Sri Dhammananda

Alih Bahasa :
Oeij Sian Pin

Editor :
Ir. Lindawati T.

BAB 1
Sang Buddha

Kebesaran Sang Buddha

Saya sendiri tidak dapat merasakan bahwasanya, baik dalam hal
kebijaksanaan maupun dalam hal kebajikan, Kristus berdiri sama tinggi dengan
sejumlah orang lainnya yang dikenal sejarah ñsaya pikir saya semestinya
menempatkan Sang Buddha di atas Kristus dalam kedua hal tersebut.
(Bertrand Russell, ìWhy I am not a Christianî)

Perwujudan Kebajikan

Sang Buddha adalah perwujudan dari seluruh kebajikan yang telah Beliau
babarkan. Selama 45 tahun pembabaran DhammaNya yang sukses dan diwarnai
berbagai peristiwa, Beliau menerjemahkan semua kata ñ kataNya ke dalam tindakan
nyata; dan tiada celah sedikit pun yang disediakan bagi munculnya bebagai nafsu
keinginan rendah. Aturan kemoralan dari Sang Buddha adalah yang paling
sempurna yang pernah dikenal oleh dunia.
(Prof. Max Muller, sarjana Jerman)

Bunga Pohon Kemanusiaan

Inilah sang bunga yang tumbuh pada pohon kemanusiaan kita, Yang
bermekaran beribu ñ ribu tahun, dan merekahnya, memenuhi dunia dengan harumnya
kebijaksanaan dan tetesan madu cinta kasih.
(Sir Edwin Arnold, ìLight Of Asiaî)

Sang Buddha Lebih Bersesuaian Dengan Kita

Anda melihat dengan jelas seorang manusia, sederhana, penuh bakti,
menyendiri, berjuang untuk mencapai pencerahan, suatu pribadi manusia yang begitu
hidup, bukan suatu mitos. Di dalam aneka ragam kisah yang menakjubkan, saya
merasa bahwa disana juga terdapat seorang manusia. Beliau juga, menyampaikan
suatu pesan yang bersifat universal dalam karakter kepada umat manusia. Banyak
ide modern terbaik kita yang sangat bersesuaian dengan pesannya itu. Ia
mengajarkan bahwa semua kesengsaraan dan ketidakpuasan hidup adalah
disebabkan oleh sifat mementingkan diri sendiri. Sifat ini mempunyai tiga bentuk
–pertama, keinginan untuk memuaskan kelima indera; kedua, keinginan untuk hidup
selamanya; dan ketiga, keinginan untuk memperoleh kemakmuran dan kenikmatan
duniawi. Sebelum seseorang dapat menjadi tenang dan damai, ia harus
menghentikan hidup demi memuaskan indera ñ inderanya atau dirinya sendiri.
Setelah itu ia lebur menjadi suatu mahluk agung. Sang Buddha lima ratus
tahun sebelum Kristus lahir, dengan bahasa yang berbeda mengajarkan bersesuaian
dengan kita dan kebutuhan ñ kebutuhan kita. Sang Buddha lebih nyata dan mudah
dipahami daripada Kristus, perihal dengan pentingnya diri kita dalam pelayanan,
serta perihal mengurangi keraguan atas pertanyaan tentang pribadi yang kekal / roh
abadi.
(HG. Wells)
Manusia Termulia

Bila anda ingin menjumpai seorang manusia yang paling mulia, tengoklah
seorang raja dalam pakaian pengemis; Dialah orang yang paling suci di antara
manusia.
(Abdul Atahiya, Seorang Penyair Muslim)

 

read more

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: