Pada awalnya ke…

Pada awalnya ketika seorang pemula belajar tentang ajaran Buddha, mungkin agak sedikit mengalami kebingungan, merasa janggal bahkan heran. Mengapa saya katakan demikian? Biasanya dan sudah umum sekali bahwa dalam ajaran agama untuk pertama sekali akan menawarkan konsep kebahagiaan. Tetapi dalam ajaran Buddha malah sebaliknya yaitu menawarkan konsep kebenaran penderitaan. Agama Buddha ini memang aneh, aneh tapi nyata. Di jaman yang semakin modern ini justru yang aneh-aneh ini banyak dicari, dipelajari, dan digemari oleh orang-orang. Mengutip apa yang disampaikan oleh Enstain bahwa agama yang dapat menjawab berbagai macam tantangan-tantangan kehidupan dan selaras dengan kemajuan iptek adalah agama masa depan dan ini telah dibuktikan oleh agama Buddha. Artiya kebenaran dari agama- agama yang menawarkan konsep wahyu akan diuji kebenarannya. Dalam Buddhisme,  konsep ajaran yang Buddha tawarkan kepada umatnya bukan didasari oleh wahyu, melainkan oleh penembusan melaui pencerahan. Dulu penulis juga mengalami hal Konsep penewaran ini terdapat dalam ajaran Empat Kebenaran Mulia. Kebenaraan tentang penderitaan sebagai kebenaran pertama, selanjutnya sebab penderitaan, Terhentinya penderitaan (Nibbana) dan Jalan Menuju Terhentinya Penderitaan. Memang ajaran Buddha ini diamati secara sepintas akan memberikan kesan negatif (nyeleneh dalam bahasa jawa). Akan tetapi, jika diresapi secara mendalam Empat Kebenaran Mulia itu memang benar adanya. Konsep yang Buddha tawarkan tersebut adalah suatu konsep kebenaran, bukan merupakan kata-kata yang tiada bermakna, dan juga bukan berupa kesimpulan tanpa dilandasi pembuktian. Ajaran ini adalah nyata dan tak seorang pun dapat menyangkal kebenaran ini. Sebagaimana halnya kebenaran yang pertama yaitu tentang kebenaran dukkha atau penderitaan, mereka yang tidak percaya bahwa hidup ini adalah penderitaan, tidak percaya tentang kebenaran ini juga terkena penderitaan dan yang percaya juga mengalami penderitaan. Jadi tidaklah menjadi masalah ajaran ini mau dipercayai atau pun tidak dipercayai. Prinsip nyata ajaran ini tetap ada dan berjalan sebagaimana apa adanya. Buddha sebagai pembabar ajaran hanya menawarkan ajaran, jika anda ingin terbebas dari ini kikis ini, jalankan dan jika anda menuruti ini akibatnya ini. Jika anda inginkan kebahagiaan maka anda seyogyanya harus tahu akan penderitaan. Jika anda tidak tahu akan penderitaan atau tidak mau tahu akan penderitaan maka  kebahagiaan yang akan anda dapatkan merupakan kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan semacam ini adalah kebahagiaan tingkat rendah yang tetap dicengkram atau diliputi oleh penderitaan.

 

Image

Selanjutnya tidaklah mengherankan mengapa ajaran Buddha untuk pada tahap awal  atau langkah awal menyuguhkan kebenaran tentang penderitaan. Hal ini disebabkan kebahagiaan yang ditawarkan dalam ajaran Buddha ada dua macam yaitu kebahagiaan duniawi dan kebahagian non duniawi. Kebahagiaan duniawi ini seperti memiliki tubuh yang cantik atau tampan, terlahir dalam keluarga kaya, bermartabat tinggi, pandai, memiliki kekuasaan, selalu sehat, usianya panjang. Ini semua adalah berkah, suatu kebahagiaan yang selalu diharapkan oleh setiap orang. Namun dibalik itu semua secara kebenaran yang hakiki (Paramatha Dhamma), berkah atau jenis-jenis kebahagiaan yang telah diuraikan di atas merupakan kebahagiaan yang semu. Ada kebahagiaan tertinggi yang mengatasi jenis-jenis kebahagiaan tersebut yaitu kebahagiaan terbebas dari penderitaan. Tercapainya pemadaman total dari nafsu keinginan rendah sebagi penyebab timbulnya penderitaaan. Inilah yang sering disebut dengan tercapainya Nibbana. Nibbana merupakan tujuan tertinggi bagi umat Buddha. Mereka yang mencapai nibbana, tidak akan diombang ambingkan oleh kondisi-kondisi yang menyebabkan penderitaan. Ia terbebas dari ratap tangis, kesedihan, kegelisahan dan berbagai macam penyakit-penyakit batin yang lainnya.

 

Jalan untuk pencapaian nibbana sebenarnya telah Buddha wartakan lebih dari 2500 tahun yang lalu itu dikenal dengan Jalan Mulia Berunsur Delapan yaitu pandangan benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, meditasi benar. Dengan mempraktekkan jalan mulia berunsur delapan ini keserakahan, kebencian, kegelapan batin yang merupakan tiga akar kejahatan dan sebagai sumber penderitaan dapat dibasmi secara total. Memang tidaklah mudah untuk mempraktekkan resep mujarab untuk mengatasi penderitaan ini, dibutuhkan keuletan, semangat dan latihan setahap demi setahap dan berulang-ulang. Sebagaimana Buddha katakan dalam memaknai kebenaran akan penderitaaan.  “Berkumpul dengan orang yang tidak kita cintai adalah penderitaan, Berpisah dengan orang yang kita cintai adalah penderitaan”.

 

Nasehat Buddha diatas adalah umum sekali terdengar, dan sering terjadi disekitar kita. Nasehat ini telah disampaikan 2500 tahun yang lalu.  Mungkin karena sudah terlalu umum jadi kita jarang memaknainya. Sepertinya itulah kenyataan yang terjadi di masyarakat. Kita mudah mengucapkan nasehat, menghibur bagi mereka yang mengalami kesusahan, kesialan atau menerima karma buruk. Kita juga mudah membuat tulisan atau kata-kata bijak, ujar-ujar suci untuk berkotbah kepada orang lain. Kalau diibaratkan sama mudahnya membalikkan telapak tangan.  Tetapi ketika kita sendiri mengalami kenyataan yang tidak menguntungkan semisal ditinggal mati orang tua, istri, anak atau bahkan kita mengalami kegagalan, kesusahan, menerima akaibat karma buruk, Apakah kita sanggup menasehati diri kita sendiri? Tidakkah kita  menderita atas segala kegagalan, kesialan yang menimpa diri kita? Apakah batin kita seimbang menerima kenyataan yang terjadi?

 

Inilah saudara-saudara se Dharmma problematika yang terjadi pada diri kita masing-masing. Kita coba nyalakan api unggun. Cobalah untuk berdiri dari jarak yang terjauh sampai yang terdekat dengan api unggun. Kita beri urutan 1 kaki untuk jarak yang terdekat dan 75 kaki untuk jarak yang terjauh. Ketika menempati urutan 40 – 30 belum terasa hangatnya api unggun tersebut. Mendekati urutan  30-15 panasnya api unggun terasa membakar badan kita, selanjutnya 10 – 1 panasnya api ungun menghanguskan tubuh kita. Walaupun telah Buddha katakan hidup adalah penderitaan, namun kita pun jarang merasakan hal tersebut, mengapa?

 

Ini menjadi suatu pertanyaan yang sangat rumit untuk dijawab dan yang bisa menjawabnya hanya diri kita masing-masing. Kesemuanya itu membutuhkan perenungan, membutuhkan waktu untuk mendewasakan diri sebagai upaya mencerap kebenaran ini yaitu kebenaran tentang penderitaan. Walau pun Buddha membabarkan kebenaran tentang dukkha di awal pembabaranNya, tidak selayaknya kita memiliki pandangan pesimistis. Menganggap kesemuanya adalah penderitaaan. Kebenaran pertama tentang adanya penderitaan ini sebagai langkah awal bagaimana kita dapat memperoleh kebahagiaan. Dengan memahami esensi hidup dan kehidupan sebagaimana apa adanya, maka akan membuka pandangan yang benar dalam menyikapi berbagai macam kondisi-kondisi yang ada disekitar kita yang dapat menimbulkan penderitaan. Selanjutnya berusaha mengurai  dan mencoba mencari penyebab penderitaan yang menyelimuti kehidupan kita, dan  pada akhirnya kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati sebagai puncak tujuan. Setelah kita dapat mengerti sebab yang menimbulkan penderitaan, pikiran mulai tercerahkan dan tidak akan lagi terjebak dalam kebahagiaan-kebahagiaan sementara yang mengiring pada pemuasan nafsu-nafsu indera. Kebahagiaan-kebahagiaan seperti ini walau pun secara umum dipandang sebagai kebenaran, akan tetapi kebahagiaan semacam ini masih dilekati oleh lobha (keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (kegelapan batin) dan tidak menuju pada akhir penderitaan.

 

Sebagai contohnya mencapai Surga merupakan kebahagiaan, tapi surga menurut ajaran Buddha bukan merupakan tujuan akhir umat Buddha. Surga adalah alam kebahagiaan sebagai hasil perbuatan-perbuatan baik yang telah kita lakukan. Para makhluk yang hidup di alam surga masih bisa mengalami kelapukan ,ketuaan dan kematian di alamnya. Kehiduan di surga bukanlah kehidupan yang kekal. Surga masih masuk di dalam 31 alam kehidupan. Mereka yang terlahir di 31 alam kehidupan masih dicengkram oleh ketidakkekalan, dan masih mengalami penderitaan. Penderitaan karena usia tua, kelapukan dan kematian.

 

Posted on 30 Maret 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: