LANGKAH RAJA JAWA MENUJU ISTANA

LAKU SPIRITUAL SULTAN

LANGKAH RAJA JAWA MENUJU ISTANA

  1. Pendahuluan.

Setiap orang memiliki kisah hidup yang berbeda-beda, begitu juga dengan seorang yang dianggap sebagai orang pilihan dari tanah jawa. Dalam tatanan kehidupan orang jawa masih ada silsilah turun temurun terutama dalam lingkup kekuasaan Keraton. Bukan hanya di lingkungan Keraton, akan tetapi di Indonesia sendiri juga masih ada silsilah turun temurun seperti Materinial dan Paterinial.

Dalam buku “Laku Spiritual Sultan Langkah Raja Jawa Menuju Istana” memiliki isi yang sangat menarik, terutama dalam menguri-uri atau melestarikan kebudayaan Tanah Jawa yang di era modern ini sudah mengalami kepunahan. Dari cara berbicara, tingkah laku atau sopan santun, hingga tradisi yang hampir punah. Selain, membahas tentang kebudayaan tanah Jawa, terdapat pula sifat-sifat yang menarik dari seorang pemimpin. Bagaimana menjadi pemimpin yang baik untuk menyejahterakan rakyat yang meskipun Negara Indonesia sudah merdeka sekian lama. Akan tetapi, masih banyak rakyat yang belum dapat merasakan kemerdekaan.

  1. Isi

Isi buku selain menggambarkan tentang cerita dari kehidupan Raja Keraton Jogkakarta yaitu Hamengku Buwono X. Beberapa isi buku juga menggambarkan tradisi Tanah Jawa dalam melestarikan kebudayaan, tetapi juga berisikan hal-hal yang bersifat mistik dan bersifat politik. Seperti adanya hubungan yang selalu terjalin antara Sri Sultan dan Ratu Kidul yang menguasai Laut Selatan Pulau Jawa. Sebagian orang ada yang percaya dengan adanya Ratu kidul, dan ada juga yang tidak percaya. Karena, Ratu Kidul hanyalah mitos semata yang dibuat agar orang tidak melakukan tindakan yang salah.

Sri Sultan Hamengku Buwono X bergelar Pendidikan Hukum dari lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta. Dengan gelar S.H tentu saja pandangan politik untuk mengatur daerah Yogyakarta menjadi mudah. Karena, selain sebagai Sultan juga menjadi Gubernur(sebelum tahun 2003). “Dengan tulus iklas saya menyatakan tidak bersedia lagi menjabat sebagai Gubernur…masa jababatan tahun 2003-2008” (2009:84).

Bahkan, cerita tentang Sri Sultan Hamengku Buwono X menjabat sebagai Presiden pada tahun 2009 menimbulkan berbagai macam perbincangan yang menarik terutama pada pernyataan Sultan yang menyatakan mengundurkan diri dari masa jabatan sebagai Gubernur DIY. Pada waktu itu menjadi perbincangan yang menarik karena Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah seorang raja, mungkin akan berbeda jika bukan menjabat sebagai raja.

Selain itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan orang yang suka dan pintar berbaur. Tetapi, cara memimpin selain dari hal yang realistis ada pula yang cara memimpin yang mistik juga. “…melalui perjanjian penembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul, untuk saling membantu apabila terjadi gangguan dalam tubuh kerajaan”(2009:89). Memang bukan hal yang aneh jika kepemimpinan yang dikaitkan dengan hal-hal yang mistik dalam tradisi Jawa. Karena, bukan hanya kepemimpinan yang selalu dikaitkan dengan hal yang mistik tetapi seperti tradisi Jawa juga selalu dikaitkan dengan hal-hal yang mistik seperti larungan yang diadakan di pantai selatan jawa.

  1. Penutup

Dari hasil buku yang penulis telah membaca dapat disimpulkan, bahwa tradisi Jawa selalu terkait dengan hal-hal yang mistis. Dari menata pemerintahan hingga pelaksanaan tradisi yang sudah turun temurun dilaksanakan selalu dikaitkan dengan hal yang mistis. Tetapi budaya memang harus selalu dilestarikan, karena kita sebagai warga negara indonesia. Apa harus negara tetangga yang akan melestarikan kebudayaan dan tradisi Indonesia. Ketika dilestarikan oleh negara tetangga kita malah tidak terima terhadap kebudayaan dan tradisi yang dilestarikan.

Tetapi untuk masa modern banyak orang-orang yang sudah melupakan tradisi yang ada dan terjadi secara turun-temurun. Seharusnya ada percampuran antara modernisasi dan tradisionalisasi untuk melestarikan kebudayaan yang sudah ada sejak jaman dahulu. Seperti halnya pada pakaian batik yang didesain sesuai dengan perkembangan jaman. Ketika digunakan oleh anak muda tidak terasa jadul, begitu juga dengan kebudayaan dan tradisi yang ketika dilestarikan oleh anak muda tidak merasa seperti hal yang kuno.

Seorang Sultan seharusnya dapat menjadi contoh dalam bagi setiap orang terutama bagi seseorang yang dituakan atau dijadikan sebagai pemimpin yang mampu menjaga ucapan yang telah keluar dari mulut. Ada pepatah yang mengatakan tidak selakyaknya menjilat ludah yang telah terbuang dari mulut kita. Menjaga ucapan yang telah terlontar, dan juga janji yang sudah terucap juga harus dijalankan sesuai amanat. Karena, masih ada pejabat negara yang mengucap janji jabatan tetapi ketika bekerja di lapangan tidak sesuai dengan janji yang diucapkan. Sehingga terjadi korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di Negara Indonesia.

Selayaknya kita sebagai warga negara, menjadi seorang pemimpin tidak seharusnya menggunakan hal-hal yang mistik untuk melancarkan kepemimpinan. Akan tetapi dengan kepercayaan diri yang dimilikilah yang perlu untuk digunakan untuk menjadi pemimpin. Harus dapat membedakan mana kebudayaan dan cara memimpin.

Refrensi

Artha, Arwan Tuti. 2009. Laku Spiritual Sultan Langkah Raja Jawa Menuju Istana. Galangpress; Yogyakarta.

About Foe_Ya

aku adalah seorang pelajar

Posted on 25 Maret 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: